Kemarau Panjang di Sindanglaya
August 1st, 2007 by doelhadiSetiap hari sekitar 25 hingga 30 truk tangki air berkapasitas 5.000 liter pulang pergi melewati Jalan
Sindanglaya, Kelurahan Sindang Jaya, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Truk-truk itu mengangkut air bersih dari beberapa mata air di wilayah perbukitan yang masuk di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, untuk didistribusikan dan dikonsumsi oleh warga kota Bandung.
*
Air memang subur di daerah itu. Tapi bagi sebagian besar warga Sindaglaya sendiri, air bersih justru menjadi barang yang mahal. Tak peduli musim hujan atau kemarau panjang, warga di beberapa RW di wilayah ini terpaksa harus menggunakan air selokan untuk kebutuhan mandi dan mencuci baju.
*
Jangan bayangkan air selokan itu bersih. Airnya berwarna kelabu, agak kental, dan berbau. Air itu mengalir dari mata air wilayah perbukitan melalui selokan pembuangan limbah rumah tangga.
*
Ternyata ada sekira 40 persen warganya yang menggunakan "air giring" –istilah untuk air yang digiring melalui selokan. Oleh warga, air tersebut dialirkan ke dalam bak-bak penampungan air atau sumur yang mereka bangun di rumah masing-masing. Ada yang juga diresapkan ke kebun penduduk, sehingga air meresap ke dalam sumur yang dibangun di dekat kebun. Air di dalam kebun itu jernih, jauh berbeda dari air yang dialirkan langsung ke bak penampungan. Air dari sumur itu digunakan untuk keperluan memasak dan minum. Jika sumur kering, warga harus membeli air.
*
Jika jadwal menampung air tiba, perwakilan warga akan pergi ke wilayah perbukitan untuk "mencari air". Para pencari air ini akan membelokkan air dari
sungai-sungai atau selokan-selokan di wilayah utara yang masuk ke wilayah Kabupaten Bandung.
*
Mencari air bukan pekerjaan sederhana. Risikonya pun tinggi. Warga harus berjalan tak kurang dari enam kilometer, menyusuri alur sungai atau selokan, menerobos wilayah penuh duri. Tak jarang harus berhadapan dengan warga dari wilayah lain yang juga mencari air.
*
Sudah lima belas tahun warga di jalur Sindanglaya ini kesulitan air. Sumur milik warga, sudah pasti kering jika kemarau tiba. Ini adalah kondisi yang tak pernah terjadi pada lima belas tahun lalu. Suatu hal yang ironi bahwa di daerah yang kaya air, warga Sindanglaya justru merana kehilangan air.
*
Keinginan untuk bisa menengok langsung saudara-saudara gw di Sindanglaya, sayangnya gak bisa
terealisir sampai sekarang. Pimpinan gw gak rela kalo gw harus main jauh-jauh untuk "sekedar" meliput masalah ini menjadi sebuah tayangan.
*
Isu Urban yg gw usulkan dianggap sudah bergeser secara geografis, semakin menjauh dari Jakarta. Apakah masalah Urban cuma ada di Jakarta ? Ini tentu masih bisa diperdebatkan.
*
Memaparkan persoalan sosial secara nyata sesungguhnya merupakan tugas dan tanggungjawab dari para jurnalis dan pekerja pers dimanapun berada. Kalau masih harus berhitung-hitung dengan kalkulasi dagang, ya memang lebih baik jadi pengusaha….




