Archive for December, 2007

Appreciation

Wednesday, December 19th, 2007

INDONESIA: Journalists awarded for reportage

UNICEF, AJI recognize nine journalists from radio, television and print for their coverage of children-related issues

The Jakarta Post
Tuesday, December 18, 2007

By Irawaty Wardany

Jakarta — The Alliance of Independent Journalists (AJI) and the United Nations Children’s Fund (UNICEF) awarded nine Indonesian journalists Monday for their work on children.

Ajiunicef_awardThe award ceremony, held at the Jakarta Convention Center, was attended by Information and Communication Minister Muhammad Nuh, State Minister for Women’s Empowerment Meutia Farida Hatta Swasono, UNICEF chief representative in Indonesia Gianfranco Rotigliano as well as editors of national media organizations.

The award was delivered to three media categories including radio, television and print. The radio category was scooped by journalists at 68H Radio News with their feature stories.

Fariansyah took first place with his story TK 10,000 Perak (Kindergarten with a monthly fee of Rp 10,000) aired in January 2007. The second place went to Sri Lestari with her story Perdagangan Anak dan Perempuan di Indramayu (Trafficking of women and children in Indramayu) aired in July 2007.

And third place went to Suryawijanti with her story Hidupku Terbelenggu Perbudakan Adat (My life is repressed by custom’s slavery) aired in March 2007. Currently 68H is the only radio station that provides a feature program every day at 7:30 p.m.

In the television category, reporter Dulhadi and cameraman Toni Tjahjono from RCTI won first place with his story Manusia Gerobak With_minister_of_women_empowerment_mrs_m(Cart men) aired on the channel’s "Urban" program in September 2007. Second place went to Aderia of Trans TV with her story Demi Uang Bayi Disewakan (Babies for rent) aired for "Reportase Sore" (Afternoon Report) program in July 2007. And third place went to Dulhadi of RCTI with his story on Nasib Buram Bocah Pedongkelan (Dark fate of Pedongkelan children) also aired on the "Urban" program.

Best journalistic work on children in print was   to Ahmad Nurhasim from Jurnal Nasional daily, with his article Saujana Retak di Balik Penjara Anak (Broken vision behind the bars of juvenile prison) published in July 2007. Second prize in print went to Angela H. Wahyuningsih from Femina magazine with her article, Aku tak Mau jadi Artis Ma! (I don’t want to be a celebrity model/actress/singer, Ma!) published in the 44th edition of Femina. Third place in print went to Aris Kelana from Gatra magazine with his article Gemuk Dahulu Penyakit Datang Kemudian (Being fat first, disease comes later) published in March 2007.

With_information_minister_mr_m_nuhAll winners were given Rp 50 million (US$5,313.5) of life insurance each and cash prizes of Rp 6,5 million, Rp 5 million and Rp 4 million each for first, second and third place. Fariansyah said in his speech, the award was his first ever.

He said he did not expect praise however as he was "just doing his job when he found out about a kindergarten in Plumpang, East Jakarta". The kindergarten he reported on is managed by a local housewife with only Rp 10,000 school fees a month.

At the time he drafted the story, the kindergarten was almost closed down because of a lack of funds for rent. "But after the story was aired, one of the listeners settled the rental fee for two years," Fariansyah said.

Penghargaan Jurnalistik

Wednesday, December 19th, 2007


Jurnas, RCTI, dan Radio 68 H Juara Pertama

JAKARTA , KOMPAS CYBER MEDIA

Untuk kali kedua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Badan We_are_the_best_teamPerserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk Anak, UNICEF, menyerahkan “Penghargaan AJI-UNICEF untuk Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak”.

Penyerahan penghargaan berlangsung dalam suasana yang cukup meriah di Balai Sidang Jakarta (JCC), Senin (17/12) sore. Acara ini dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia F Hatta yang mewakili Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhammad Nuh, serta sejumlah undangan yang mewakili berbagai lembaga tentang anak.

Dewan juri yang terdiri dari praktisi media cetak, radio dan televisi serta pemerhati hak anak memutuskan Ahmad Nurhasim wartawan pada Harian Jurnal Nasional (Jurnas), Angela H Wahyuningsih (Majalah Femina) dan Aries Kelana (Majalah Gatra) sebagai pemenang pertama, kedua dan ketiga untuk kategori media cetak.

Peraih penghargaan untuk karya jurnalistik di radio adalah Fariansyah (KBR 68H), Sri Lestari (KBR 68H) dan Suryawijanti (KBR 68H) masing-masing sebagai pemenang pertama, kedua dan ketiga. Sedangkan Dulhadi dan Toni Tjahjono (RCTI) serta Aderia (Trans TV) memenangi kompetisi untuk kategori televisi.

Selain menerima sertifikat penghargaan dari UNICEF dan AJI, para pemenang juga menerima hadiah uang sebesar Rp 6.500.000 untuk para pemenang pertama, Rp 5.000.000 untuk pemenang kedua, dan Rp 4.000.000 untuk pemenang ketiga, serta asuransi jiwa dengan pertanggungan sebesar Rp 50.000.000. Hadiah ini berasal dari mitra corporate UNICEF: Commonwealth Life, Mayora, dan BCA.

Pada tahun 2006, ketika penghargaan ini diberikan untuk kali pertama, penghargaan hanya diberikan untuk media cetak. Memasuki tahun kedua, penghargaan diberikan untuk karya jurnalistik terbaik yang mengangkat isu tentang anak, baik di media cetak, radio maupun televisi.

Dr. Gianfranco Rotigliano, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia mengatakan, “Melalui penghargaan tahunan ini UNICEF ingin memberi peluang dan dorongan kepada para insan media untuk membuat karya-karya jurnalistik mengenai anak, menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme investigatif yang handal, mendidik masyarakat luas mengenai isu-isu yang berkaitan dengan anak, sekaligus juga beradvokasi bagi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik.”

Panitia seleksi menerima 110 karya jurnalistik yang mengangkat isu tentang anak. Karya-karya tersebut berasal dari berbagai media di tanah air. Heru Hendratmoko, Ketua Umum AJI Indonesia menggatakan saat ini telah banyak reporter dan editor yang peka terhadap berbagai masalah yang berkaitan dengan pemberitaan tentang anak. “Jadi tidak hanya sebatas meliput dan menyebarluaskan kepada publik tanpa prespektif sama sekali, “ kata Heru Hendratmoko.

Dalam sambutannya mewakili Wakil Presiden, Menteri Meutia F Hatta mengatakan bahwa gagasan menulis tentang anak merupakan gagasan yang bagus untuki ditradisikan. “Saya agak prihatin melihat situasi anak yang sering dipaksa menjadi sesuatu yang melampaui usianya. Termasuk di dalamnya, misalnya, dalam dunia keartisan, mereka dipaksa menjadi dewasa, dengan make up dewasa. Ide menulis tentang anak yang diselenggarakan AJI dan UNICEF sangat bagus untuk ditradisikan,” katanya.

Sementara itu Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhammad Nuh, menyambut baik diselenggarakannya penghargaan ini. “Diharapkan dapat mendorong semangat bagi jurnalis baik dari media cetak, radio maupun televisi untuk terus meningkatkan kualitas karyanya,” kata Nuh. Selain itu, tambah Nuh, juga untuk menyebarluaskan gagasan yang berpihak kepada masa depan anak. (WIP)