Sejak awal kehidupan manusia, rumah sebagai tempat tinggal pada hakikatnya menjadi tempat berlindung, sekaligus menjadi ruang pribadi bagi berbagai karakter yang hidup bersama. Bayangkan jika manusia harus hidup tanpa rumah.
Perasaan terancam dan tidak nyaman senantiasa akan muncul, ruang pribadi akan hilang dan manusia tak lagi bisa menjalani kehidupannya secara normal.
*
Inilah yang harus dialami setiap hari oleh keluarga Ishak alias Aris (38). Bersama sang istri, Rosita (32 ), serta putri sulungnya, Siska Utami yang masih berumur 7 tahun, Aris dan keluarganya harus menggelandang hidup di Jakarta tanpa memiliki rumah.
*
Aris, istri dan putrinya adalah keluarga pemulung yang setiap hari biasa ditemui di Jalan Theresa, dekat permukiman elit Menteng, Jakarta Pusat. Lelaki asal Kuningan Jawa Barat ini, bersama keluarganya selalu membawa harta paling berharga milik mereka satu-satunya, yaitu sebuah gerobak. Selain sebagai alat pengangkut barang, gerobaknya sekaligus menjadi tempat berlindung di kala panas dan hujan.
*
Ketika banyak orang di sekitarnya bisa menikmati hidup dibawah atap-atap rumah yang mewah, megah dan nyaman, Aris dan keluarganya justru harus menjalani hari-harinya yang
berat sebagai manusia gerobak. Untuk keperluan pribadi, seperti mandi, mencuci dan buang air, setiap hari Aris dan keluarga melakukannya di Kali Gresik yang membelah kawasan Menteng.
*
Dari penghasilannya sebagai pemulung Aris harus mencukupi semua kebutuhan rumah tangganya. Selain urusan makan
sehari-hari, keluarga ini ternyata masih memperjuangkan pendidikan bagi Siska yang kini duduk di bangku kelas 1 SD Gondangdia, Jakarta Pusat.
*
Semangat serta kemauan belajar Siska yang tinggi, meski
harus mengerjakan tugas sekolahnya di pinggir jalan, membuat orang tuanya bertekad agar Siska menjadi anak yang pintar dan kelak bisa merubah nasib hidup keluarganya.