Kisah Para Pengumpul Beras Sisa
Beras sebagai makanan pokok penduduk Indonesia tentu merupakan barang berharga bagi banyak orang. Namun, disaat banyak rakyat Indonesia mengalami kelaparan, justru kerap kita melihat banyak pula orang yang makan secara berlebihan, menyia-nyiakan, bahkan membuangnya ke tempat sampah.
Kustonah (30), yang sehari-hari biasa ditemui di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, adalah seorang warga pendatang yang menjadikan beras sebagai benda paling berharga bagi penghidupan keluarganya.
*
Ibu tiga anak ini mencari nafkah sebagai pengumpul beras sisa di pasar induk beras terbesar di Jakarta itu. Butir demi butir beras dia kumpulkan bagai mutiara dari lantai-lantai toko, gudang dan jalanan di pasar tersebut.
*
Setelah terkumpul , dia harus membersihkannya dari batu
kerikil, pasir dan kotoran. Beras sisa itulah yang kemudian dia jual kepada para pengumpul dan tetangga rumahnya di kawasan Prumpung, Jakarta Timur. Dengan perolehan sekitar 3 sampai 5 liter sehari, Kustonah hanya memperoleh penghasilanan antara Rp 7 Ribu hingga Rp 12 Ribu.
*
Hasil kerjanya itu dia gunakan untuk membiayai hidup keluarga sekaligus membayar biaya sekolah 2 orang anaknya. Selain itu dia juga harus membayar sewa kamar kontrakan sempit di tengah permukiman padat penduduk seharga Rp60 Ribu setiap bulan.
*
Pekerjaan ini mau tak mau harus dia jalani selama belasan tahun lantaran sang suami, Salim, hanyalah seorang pemulung
sampah yang pendapatannya tak menentu. Di pasar Induk Beras Cipinang masih ada puluhan ibu-ibu lainnya yang mengais rejeki seperti Kustonah. Kehidupan kota Metropolitan Jakarta yang keras membuat para perempuan tegar ini harus menjadi pejuang bagi keluarganya.
*
Kisah para ibu yang menjadi tulang punggung keluarga ini
memberi pelajaran paling berharga. Gw jadi bisa memahami mengapa perempuan menjadi makhluk yang begitu kuat dalam menghadapi beratnya kehidupan.
