Beban Hidup Anak-Anak Penjual Batu Cobek

Sekitar 15 kilogram tumpukan batu cobek menggantung di Batu_cobek_1bahunya. Lima sampai enam buah batu ulekan untuk membuat sambal itu, menggayuti  tubuh kecilnya yang tak mampu lagi ditegakkan. Langkahnya pun terseret-seret. Bisa dibayangkan jika batu-batu itu harus dipikul berkilo-kilometer jauhnya.

*

Untuk menjual batu-batu itu, Asep, sebut saja namanya begitu, harus berangkat dari kampungnya di Padalarang ke Kota Bandung, Jawa Barat. Sekali jalan ia harus mengeluarkan uang Rp3000, yaitu Rp2000 untuk ongkos angkutan kota, dan Rp1000 untuk membeli karcis kereta api dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Kebon Kawung, Kota Bandung.
Asep dan sejumlah teman-temannya yang lain harus berkeliling kota Bandung menjajakan dagangannya.

*

Batu-batu ulekan itu dia dapatkan dari kampungnya sendiri di Padalarang. Sehari paling mungkin laku sekitar dua buah batu ulekan. Keuntungan yang didapat Asep tidak sebanding dengan jerih payahnya berkeliling kota menjajakan batu ulekan yang berat itu.

*

Ada anak-anak lain seusia Asep yang juga menjajakan dagangan seperti ini. Seorang anak penjual batu cobek biasanya membawa antara 6-10 cobek. Harga jualnya bervariasi antara Rp 20.000-Rp 35.000. Di desa harga cobek itu hanya Rp 5.000-Rp 10.000. Karena itu mereka memilih untuk berdagang ke kota.

*

Kalau sehari mereka hanya bisa menjual cobek kecil seharga Rp 20.000, maka Rp 10.000 nya harus disetor pada juragan cobek. Pedagang Batu_cobek_3 cilik ini hanya mendapat Rp 4.000  saja, karena Rp 6.000 habis untuk ongkos pergi-pulang Bandung-Padalarang.

*

Saat liburan sekolah tiba, Asep dan anak-anak yang senasib dengannya banyak terlihat di jalan-jalan utama kota Bandung. Ketika anak lain gembira menghabiskan waktu libur dan terbebas dari tugas-tugas sekolah, Asep dan teman-teman justru harus berjibaku dengan barang dagangannya.

*

Entah para pembeli batu cobek itu memang benar-benar membutuhkan atau membeli karena rasa belas kasihan, yang jelas hasil dagangan bocah-bocah penjual batu cobek ini bisa meringankan beban ekonomi keluarga mereka yang rata-rata memang kekurangan.

*

Kisah mengenai para pejuang cilik ini sayangnya gak bisa gw realisasikan sebagai sebuah tayangan visual. Semoga saja, suatu saat gw diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan sosok-sosok seperti Asep dimanapun mereka berada. Berbagi cerita dan pengalaman hidup tentu menjadi suatu hal yang sangat berharga. Lebih dari apapun…

5 Responses to “Beban Hidup Anak-Anak Penjual Batu Cobek”

  1. Siska Says:

    suatu saat, mas
    kamu akan berbicara banyak penderitaan orang yang miskin dan terpinggirkan kepada dunia.. Aamiin..
    Semoga kamu bisa terus memberikan tempat untuk Khazanah-Nya.., berbicara..

  2. AdulBandul Says:

    Hi there!
    My first post at this great blog!
    I wanna show u my dayly updated blog: Amateur Topless Teen
    Have a nice day!
    BB!

    P.S. if you don’t want to see this message please write me to no.ads08@gmail.com with subject “NO ADS” and URL of your forum
    Thank you for cooperation!

  3. Dtqqrjqh Says:

    Hey, i save funny photos
    here

  4. dotEpittusE Says:

    Bite my shiny metal ass, assholes, you were joked!

  5. frm social to social Says:

    saya dri pdalarng,.. amt sngat prihatin skli liat ank2 ntu.,.,
    saya ingin brbuat swatu yg riil.,.tk hanya skadar ungkapan.,.,
    ktika prtama kali liat ank2 penjual cobek tu rasanya ngri skali,.dmna ketika org disekli2ng sedang blanja mnghbskan uang,.di satu sisi lain sdang brusaha mncarinya.,.sungguh keadaan yg amat sangt ,.,.,.?????gk bsa d ungkapin.,.,mgkin kita mesti brbuat sswatu???????

Leave a Reply