Archive for September, 2007

Beban Hidup Anak-Anak Penjual Batu Cobek

Saturday, September 15th, 2007

Sekitar 15 kilogram tumpukan batu cobek menggantung di Batu_cobek_1bahunya. Lima sampai enam buah batu ulekan untuk membuat sambal itu, menggayuti  tubuh kecilnya yang tak mampu lagi ditegakkan. Langkahnya pun terseret-seret. Bisa dibayangkan jika batu-batu itu harus dipikul berkilo-kilometer jauhnya.

*

Untuk menjual batu-batu itu, Asep, sebut saja namanya begitu, harus berangkat dari kampungnya di Padalarang ke Kota Bandung, Jawa Barat. Sekali jalan ia harus mengeluarkan uang Rp3000, yaitu Rp2000 untuk ongkos angkutan kota, dan Rp1000 untuk membeli karcis kereta api dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Kebon Kawung, Kota Bandung.
Asep dan sejumlah teman-temannya yang lain harus berkeliling kota Bandung menjajakan dagangannya.

*

Batu-batu ulekan itu dia dapatkan dari kampungnya sendiri di Padalarang. Sehari paling mungkin laku sekitar dua buah batu ulekan. Keuntungan yang didapat Asep tidak sebanding dengan jerih payahnya berkeliling kota menjajakan batu ulekan yang berat itu.

*

Ada anak-anak lain seusia Asep yang juga menjajakan dagangan seperti ini. Seorang anak penjual batu cobek biasanya membawa antara 6-10 cobek. Harga jualnya bervariasi antara Rp 20.000-Rp 35.000. Di desa harga cobek itu hanya Rp 5.000-Rp 10.000. Karena itu mereka memilih untuk berdagang ke kota.

*

Kalau sehari mereka hanya bisa menjual cobek kecil seharga Rp 20.000, maka Rp 10.000 nya harus disetor pada juragan cobek. Pedagang Batu_cobek_3 cilik ini hanya mendapat Rp 4.000  saja, karena Rp 6.000 habis untuk ongkos pergi-pulang Bandung-Padalarang.

*

Saat liburan sekolah tiba, Asep dan anak-anak yang senasib dengannya banyak terlihat di jalan-jalan utama kota Bandung. Ketika anak lain gembira menghabiskan waktu libur dan terbebas dari tugas-tugas sekolah, Asep dan teman-teman justru harus berjibaku dengan barang dagangannya.

*

Entah para pembeli batu cobek itu memang benar-benar membutuhkan atau membeli karena rasa belas kasihan, yang jelas hasil dagangan bocah-bocah penjual batu cobek ini bisa meringankan beban ekonomi keluarga mereka yang rata-rata memang kekurangan.

*

Kisah mengenai para pejuang cilik ini sayangnya gak bisa gw realisasikan sebagai sebuah tayangan visual. Semoga saja, suatu saat gw diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan sosok-sosok seperti Asep dimanapun mereka berada. Berbagi cerita dan pengalaman hidup tentu menjadi suatu hal yang sangat berharga. Lebih dari apapun…

Kisah Para Pengumpul Beras Sisa

Monday, September 10th, 2007

Beras sebagai makanan pokok penduduk Indonesia tentu merupakan barang berharga bagi banyak orang. Namun, disaat banyak rakyat Indonesia mengalami kelaparan, justru kerap kita melihat banyak pula orang yang makan secara berlebihan, menyia-nyiakan, bahkan membuangnya ke tempat sampah.

*Bersama_ibu_pengumpul_beras_sisa_1

Kustonah (30), yang sehari-hari biasa ditemui di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, adalah seorang warga pendatang yang menjadikan beras sebagai benda paling berharga bagi penghidupan keluarganya.

*

Ibu tiga anak ini mencari nafkah sebagai pengumpul beras sisa di pasar induk beras terbesar di Jakarta itu. Butir demi butir beras dia kumpulkan bagai mutiara dari lantai-lantai toko, gudang dan jalanan di pasar tersebut.

*

Setelah terkumpul , dia harus membersihkannya dari batu Rumah_pengumpul_beras_sisa_di_prumpungkerikil, pasir dan kotoran. Beras sisa itulah yang kemudian dia jual kepada para pengumpul dan tetangga rumahnya di kawasan Prumpung, Jakarta Timur. Dengan perolehan sekitar 3 sampai 5 liter sehari, Kustonah hanya memperoleh penghasilanan antara Rp 7 Ribu hingga Rp 12 Ribu.

*

Hasil kerjanya itu dia gunakan untuk membiayai hidup keluarga sekaligus membayar biaya sekolah 2 orang anaknya. Selain itu dia juga harus membayar sewa kamar kontrakan sempit di tengah permukiman padat penduduk seharga Rp60 Ribu setiap bulan.

*

Pekerjaan ini mau tak mau harus dia jalani selama belasan tahun lantaran sang suami, Salim, hanyalah seorang pemulung Ibu_pengumpul_beras_sisa_di_cipinang sampah yang pendapatannya tak menentu. Di pasar Induk Beras Cipinang masih ada puluhan ibu-ibu lainnya yang mengais rejeki seperti Kustonah. Kehidupan kota Metropolitan Jakarta yang keras membuat para perempuan tegar ini harus menjadi pejuang bagi keluarganya.

*

Kisah para ibu yang menjadi tulang punggung keluarga ini Ibu_pengumpul_beras_sisa_di_cipinang_1 memberi pelajaran paling berharga. Gw jadi bisa memahami mengapa perempuan menjadi makhluk yang begitu kuat dalam menghadapi beratnya kehidupan.