Nasib Buram Bocah Pedongkelan
Friday, August 24th, 2007
Menjadi tulang punggung keluarga merupakan tanggung jawab seorang ayah sebagai kepala rumah tangga. Sementara sang anak harus menjadi pihak yang dilindungi oleh kedua orangtuanya. Namun kondisi sebaliknya justru dialami oleh Nurhayati, seorang bocah perempuan berusia 11 tahun yang masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Nur, begitu
panggilan kecilnya, tinggal di sebuah rumah sempit dan pengap di kawasan kumuh Pedongkelan, Jakarta Timur. Dia hidup bersama ibu dan 3 orang saudaranya.
*
Sehari-hari Nurhayati mencari uang dengan mengamen di sudut-sudut lampu merah kawasan Pedongkelan dan di dalam bus kota. Uang hasil mengamennya yang tak seberapa –sekitar Rp 10 Ribu hingga Rp 15 Ribu sehari– sebagian dia berikan kepada sang Ibu untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selebihnya dia gunakan untuk membayar keperluan sekolah serta uang jajannya sehari-hari.
*
Ini terpaksa dilakukan Nurhayati, lantaran sang Ayah sudah tak lagi memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga. Ayah Nurhayati yang bekerja sebagai sopir Bajaj di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, sudah tak pernah lagi pulang ke rumah. Bahkan sang Ayah juga tak pernah memberikan nafkah kepada keluarga.
*
Sementara ibunya, Sudarmini, tak bisa berbuat banyak untuk mengambil peran sebagai kepala keluarga yang harus memenuhi kebutuhan kelaurga. Ini lantaran Sudarmini tak bisa meninggalkan dua adik Nurhayati yang masih kecil, yaitu Septi (6) dan Suwendi (10). Ironisnya, Suwendi kini hanya bisa tergolek lemah di kamarnya yang sempit dan pengap karena lumpuh akibat terserang polio setahun lalu.
*
Apa yang dilakukan Nurhayati dengan mencari nafkah di jalanan, juga dilakukan kakak perempuannya, Yusanti (14), yang sudah beranjak remaja dan duduk di bangku kelas 3 SMP. Kedua beradik beradik inilah yang terpaksa harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya.



