Seni Tradisional yang Terpinggirkan
Friday, July 6th, 2007Sebuah Kelompok Kesenian Banyumasan yang dipimpin Suripto terpaksa harus hijarah ke Jakarta, dari kampung halaman mereka di Cilacap, Jawa Tengah pada tahun 2002.
*
Kepindahan kelompok kesenian beranggotakan 8 orang ini tak lain untuk mengadu nasib di ibukota, karena seni pertunjukan yang merupakan warisan asli budaya Jawa ini sudah tidak diminati lagi di tanah kelahirannya sendiri.
*
Kesenian Banyumasan yang menyajikan nyanyi dan tari dengan diiringi perangkat musik mirip gamelan Jawa ini pada masanya hanya dipentaskan pada sebuah acara-acara resmi, seperti hajatan pernikahan, sunatan maupun momen budaya.
*
Ironisnya, kepindahan mereka ke Jakarta yang bertujuan untuk mencari nafkah penghidupan, justru membuat kesenian daerah tersebut menjadi seni pinggiran. Ini lantaran kelompok seni Suripto dan kawan-kawan harus mementaskannya di pinggir-pinggir jalan, trotoar dan emper pertokoan.
*
Hampir setiap hari, kecuali pada musim hujan, Suripto dan kawan-kawannya harus menyusuri setiap sudut jalan ibukota
Jakarta sejak pukul satu siang, dan kembali ke rumah kontrakan mereka di wilayah Jakarta Selatan sekitar pukul sebelas malam.
*
Mereka harus ngamen dari satu tempat keramaian ke tempat keramaian berikutnya untuk sekedar mendapat uang receh dari para pengguna jalan dan warga masyarakat. Pemberian itu, bisa jadi sebagai bentuk apresiasi terhadap seni pertunjukan yang mereka sajikan, bisa pula sebagai rasa simpati atau bahkan belas kasihan.
*
Dari hasil ngamennya selama seharian itu, Suripto dan kawan-kawan setidaknya bisa memperoleh uang antara Rp200 ribu hingga Rp400 ribu. Semua harus dibagi rata kepada semua pemain, baik penabuh gamelan, pesinden (penyanyi-red) serta penari. Tentunya, itu setelah dipotong uang kontrakan rumah sebesar Rp4000 perhari untuk setiap anggota.
*
Liputan gw yang tayang di program Urban pada 30 Juni 2007 ini mengangkat perjuangan para pekerja seni jalanan tersebut dalam mencari nafkah, dan bagaimana mereka bisa mempertahankan seni pertunjukan tradisional seperti ini di kota metropolitan Jakarta.


